Alkisah, hiduplah seorang pemuda yang berwibawa dan disegani di desanya. Perilakunya santun dan bijak. Suatu saat, namanya terdengar oleh lingkungan kerajaan. Diliputi penasaran akan kemashuran pemuda itu, kerajaaan kemudian menugaskan utusan untuk mencari tahu dan mengundang sang pemuda.

Mendengar hal itu, ibunda dari sang pemuda merasa terharu dan menaruh banyak harapan. Sambil menitipkan pesan-pesan bijaksana, sang ibunda membuatkan batik bermotif kawung, dengan harapan putranya itu bisa menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat.

Waktu berselang, sang pemuda pun mulai diberi tugas-tugas kerajaan. Ia selalu bisa menyelesaikannya dengan baik. Ia pun diberi kepercayaan dan tanggung jawab yang semakin tinggi.

Suatu ketika, ia diangkat menjadi Adipati Wonobodro. Saat itulah sang pemuda mengenakan baju batik pemberian ibundanya yang bermotif kawung.

Itulah salah satu versi asal-usul batik kawung, motif batik tertua di Indonesia. Masih ada lagi versi cerita asal-usul lainnya yang tak kalah menariknya.

Batik Jadul Vs Generasi Digital

Batik kawung dan motif-motif tua lainnya memang terkesan kaku dan kuno. Wajar bila sebagian kalangan menganggap bahwa batik “ya gitu-gitu aja”, “jadul”. Apalagi kawula muda masa kini, yang terlahir dan hidup di era AI dan dunia algoritma supermodern.

Batik memang warisan budaya yang akarnya amat panjang, sudah menjadi tradisi bahkan sebelum Indonesia lahir, sejak dari zaman Majapahit. Wajar bila batik identik dengan tradisi jadul, di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat era Industri 4.0 dan Society 5.0 saat ini.

Wajar pula bila timbul kekhawatiran bahwa generasi digital native nanti akan kesulitan memahami dan mengapresiasi batik, apalagi melestarikannya.

Seiring era berganti, perlu cara-cara baru untuk mengangkat dan melestarikan batik sebagai warisan budaya tradisi asli Indonesia. Cara-cara baru itu haruslah inovatif dan kekinian, agar sejalan dengan progres zaman.

Selain itu, juga harus relate dengan generasi masa kini. Misalnya, dengan memanfaatkan teknologi yang modern, sustainable, dan akrab dengan keseharian.

Inilah yang sedang menjadi perhatian kalangan peneliti, juga didorong oleh pihak pemerintah, dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Batik “Gak Gitu-Gitu Aja”

Kemdiktisaintek melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minatsaintek) memberi dukungan penuh berupa program luncuran Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sainteknologi Nusantara (Semesta) Resona Saintek 2025.

Salah satu tema yang memperoleh perhatian adalah “Revitalisasi Batik Lokal dan Naskah Kuno Karya Seni Tradisi Melalui Pemanfaatan Sains dan Teknologi yang Berkelanjutan”. Tema ini mengangkat karya produk inovatif hasil riset lintas disiplin dari para akademisi di Universitas Krsiten Maranatha, Bandung.

Mereka membuat inovasi memadukan batik dengan warisan karya sastra dan teknologi informasi. Inovasi unggulan tersebut antara lain adalah “Batik Kura-Kura”, “Batik Naskah Kuno”, dan “Batik Bersuara”.

Ketiga topik itu telah lama diteliti oleh Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn., Dr. Ratnadewi, S.T., M.T., dan Agus Prijono, S.T., M.T. Mereka telah melakukan riset dan menghasilkan karya-karya inovasi sejak beberapa tahun silam. Hingga saat ini, penelitian dan karya-karya mereka masih terus berjalan dan berkelanjutan.

Inovasi ini ingin menegaskan bahwa batik “gak gitu-gitu aja”. Sebaliknya, batik sebagai budaya tradisi khas Indonesia adalah kekayaan sekaligus identitas bangsa yang perlu dilestarikan dengan cara-cara mengikuti perkembangan zaman. Metode, teknologi, dan material baru dapat didayagunakan untuk melestarikannya.

Batik memang warisan budaya adiluhur, tetapi juga merupakan karya budaya yang hidup dan berkembang seiring kemajuan zaman.

Batik juga bisa berevolusi memanfaatkan teknologi modern. Batik juga bisa berinovasi out of the box tanpa mengurangi keadiluhurannya.

Misteri Batik Bersuara

Pada bagian awal tulisan ini, kita telah mengetahui satu “alkisah” mengenai batik kawung. Bagaimana dengan alkisah “Batik Kura-Kura”?

Apa hubungannya dengan naskah kuno?

Apa misteri tersembunyi di balik “Batik Bersuara”?

Ketiganya menyimpan cerita yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya.

Inilah saatnya membuka tabir warisan tradisi yang berpacu di tengah arus teknologi. Semuanya akan terungkap pada artikel-artikel berikutnya.

Terima kasih telah menjadi bagian dari pelestari warisan budaya asli Indonesia!


Tulisan ini adalah bagian dari serial artikel “Semesta Inovasi Maranatha” program kampanye “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia” yang didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).

Ditulis oleh tim editorial Humas Maranatha dan tim pelaksana Resona Saintek Maranatha. Pertama kali terbit di laman Semesta Inovasi Maranatha.


Referensi:

Foto: Benaya Andrias © 2025


Gulir ke Atas